Oleh: Muhuhammad Nursalim
Kalau ada orang selingkuh ketahuan. Atau korupsi ketangkap. Atau maksiat terbongkar. Dipastikan itu dilakukan bukan yang pertama. Itulah logika Umar bin Khatab. Saat dihadapkan kepadanya seorang pencuri. Sebagaimana disebut dalam kitab Al Muhala karya Ibn Hazm berikut:
المحلى – (ج 11 / ص 158)
عن أنس بن مالك قال: أتى عمر بن الخطاب بسارق فقال: والله ما سرقت قبلها فقال له عمر: كذبت ورب عمر ما أخذ الله عبدا عند أول ذنب * وبه إلى ابن وهب عن عبد الله ابن سمعان بهذا وأن علي بن أبي طالب قال له: الله أحلم من أن يأخذ عبده في اول ذنب يا أمير المؤمنين فأمر به عمر فقطع فلما قطع قام إليه علي بن أبي طالب فقال له: أنشدك الله كم سرقت من مرة؟ قال له: احدى وعشرين مرة
.
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Seorang pencuri dihadapkan kepada Umar bin al-Khattab. Pencuri itu berkata, “Demi Allah, aku belum pernah mencuri sebelum kali ini.” Umar menjawab, “Engkau berdusta! Demi Tuhan Umar, Allah tidak akan menghukum seorang hamba pada dosa yang pertama.”
Dengan sanad yang sama melalui Abdullah bin Wahb dari Abdullah bin Sam’an disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib berkata kepada Umar: “Allah lebih penyantun daripada menghukum hamba-Nya pada dosa yang pertama, wahai Amirul Mukminin.” Maka Umar memerintahkan agar tangan pencuri itu dipotong. Setelah hukuman dilaksanakan, Ali mendatanginya lalu berkata: “Aku memintamu demi Allah, sudah berapa kali engkau mencuri?” Orang itu menjawab: “Dua puluh satu kali.”
Jawaban itu membenarkan logika Umar. Ternyata pencurian yang membuatnya tertangkap bukanlah pencurian pertama, melainkan pencurian yang kedua puluh satu. Allah menutup aib manusia itu berkali-kali. Allah adalah As-Sattār, Dzat Yang Maha Menutup aib hamba-Nya. Betapa banyak dosa yang dilakukan manusia namun tidak langsung dipermalukan di hadapan orang lain.
Seseorang mungkin telah berkali-kali menerima suap sebelum akhirnya tertangkap operasi tangkap tangan. Seorang koruptor mungkin telah bertahun-tahun menggerogoti uang negara sebelum akhirnya terendus aparat. Seorang pezina mungkin telah berkali-kali berbuat maksiat sebelum perselingkuhannya terbongkar. Seorang pembohong mungkin telah berulang kali berdusta sebelum akhirnya kedoknya terbuka.
Allah tidak tergesa-gesa membuka aib manusia. Dia memberi kesempatan untuk berhenti, menyesal, dan bertaubat. Karena itu Ali berkata, “Allah lebih penyantun daripada menghukum hamba-Nya pada dosa yang pertama.” Ketika sudah kebangetan. Barulah aib itu dibongkar.
Dalam ilmu kriminologi dikenal istilah bahwa kejahatan yang terungkap hanyalah sebagian kecil dari kejahatan yang sebenarnya terjadi. Yang Terbongkar Hanyalah Puncak Gunung Es. Begitu pula dalam kehidupan. Yang viral hanyalah satu video. Yang terbongkar hanyalah satu rekening. Yang diketahui publik hanya satu perselingkuhan. Padahal bisa jadi di belakangnya ada puluhan, bahkan ratusan perbuatan yang selama ini tersembunyi.
Itulah sebabnya Umar tidak mudah percaya kepada pengakuan pencuri. Beliau memahami tabiat manusia. Dosa yang sudah menjadi kebiasaan biasanya baru ketahuan setelah dilakukan berkali-kali. Ucapan Umar lebih merupakan firasat terhadap tabiat manusia. Beliau membaca bahwa sangat kecil kemungkinan seseorang langsung tertangkap pada percobaan pertamanya. Dan fakta membuktikan firasat itu benar.
Karena itu jangan pernah merasa aman karena dosa kita belum diketahui orang lain. Bisa jadi Allah sedang menutupinya. Ia memberi waktu kepada hambanya untuk kembali dan menyadari atas kesalahan yang dilakukan. Tetapi jika kesempatan demi kesempatan diabaikan, suatu saat Allah membuka tabir yang selama ini menutupi aib itu. Ketika saat itu tiba, bukan hanya hukuman yang datang, melainkan juga hilangnya kehormatan yang selama bertahun-tahun dijaga.
Maka, ketika membaca berita si fulan ditangkap KPK, atau si anu dicokok aparat karena narkoba. Jangan bertepuk tangan dan marasa aman. Barangkali perbedaan antara kita dengan mereka hanya ini: Dosa mereka telah dibuka oleh Allah, sedangkan dosa kita masih ditutupi-Nya. Selama tabir itu belum disingkap, berhentilah maksiat. Jangan menunggu mengulangi ke duapauluh satu. Yang akhirnya viral sehingga kehormatan kita hancur di masyarakat.