<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Ilmiah &#8211; Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Sragen</title>
	<atom:link href="https://muhammadiyahsragen.or.id/category/artikel-ilmiah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://muhammadiyahsragen.or.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Jul 2026 03:50:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://muhammadiyahsragen.or.id/wp-content/uploads/2024/07/cropped-Logo_Muhammadiyah-32x32.jpg</url>
	<title>Artikel Ilmiah &#8211; Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Sragen</title>
	<link>https://muhammadiyahsragen.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Islam Tidak Berubah, Cara Memahaminya Terus Berkembang: Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah</title>
		<link>https://muhammadiyahsragen.or.id/islam-tidak-berubah-cara-memahaminya-terus-berkembang-bayani-burhani-dan-irfani-dalam-manhaj-tarjih-muhammadiyah/</link>
					<comments>https://muhammadiyahsragen.or.id/islam-tidak-berubah-cara-memahaminya-terus-berkembang-bayani-burhani-dan-irfani-dalam-manhaj-tarjih-muhammadiyah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[mpiadmin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2026 03:50:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[#muhammadiyahsragen]]></category>
		<category><![CDATA[#muhammdiyahberkemajuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muhammadiyahsragen.or.id/?p=2410</guid>

					<description><![CDATA[Dunia bergerak semakin cepat. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transaksi digital, media sosial, hingga berbagai inovasi teknologi terus mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga cara memahami agama. Belum selesai satu persoalan dipahami, persoalan baru kembali muncul. Perubahan yang dahulu berlangsung dalam hitungan tahun, kini terjadi hanya dalam hitungan bulan, bahkan hari. Di tengah perubahan tersebut, muncul ... <a title="Islam Tidak Berubah, Cara Memahaminya Terus Berkembang: Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah" class="read-more" href="https://muhammadiyahsragen.or.id/islam-tidak-berubah-cara-memahaminya-terus-berkembang-bayani-burhani-dan-irfani-dalam-manhaj-tarjih-muhammadiyah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Islam Tidak Berubah, Cara Memahaminya Terus Berkembang: Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dunia bergerak semakin cepat. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transaksi digital, media sosial, hingga berbagai inovasi teknologi terus mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga cara memahami agama. Belum selesai satu persoalan dipahami, persoalan baru kembali muncul. Perubahan yang dahulu berlangsung dalam hitungan tahun, kini terjadi hanya dalam hitungan bulan, bahkan hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar: apakah Islam masih mampu menjawab tantangan zaman? Ataukah ajaran agama hanya relevan untuk persoalan yang terjadi pada masa lalu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Muhammadiyah memandang persoalan ini dengan cara yang berbeda. Dalam memahami agama, Muhammadiyah menggunakan <strong>pendekatan pemikiran bayani, burhani, dan irfani</strong>. Sehingga islam tidak pernah kehilangan relevansinya. Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah tetap menjadi pedoman sepanjang zaman. Yang terus berubah bukanlah ajaran Islam, melainkan persoalan dan realitas kehidupan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pendekatan Bayani: Berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan <strong>Bayani</strong> merupakan pendekatan yang menempatkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama dalam memahami ajaran Islam. Setiap persoalan dikaji dengan merujuk kepada petunjuk wahyu melalui kaidah tafsir, pemahaman hadis, dan metode istinbath yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam perspektif Muhammadiyah, pendekatan ini menjadi landasan pokok dalam persoalan-persoalan yang telah memiliki ketentuan syariat yang jelas, sehingga pemahaman dan keputusan keagamaan tetap berada dalam koridor dalil yang sahih.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pendekatan Burhani: Pendekatan Rasional dan Ilmiah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan <strong>Burhani</strong> menekankan pentingnya penggunaan akal dan ilmu pengetahuan dalam memahami realitas kehidupan. Pendekatan ini memberikan ruang bagi data empiris, hasil penelitian, dan perkembangan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari proses ijtihad, terutama dalam menghadapi persoalan-persoalan kontemporer yang terus berkembang. Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah berupaya menghadirkan pemikiran keislaman yang responsif terhadap perubahan zaman tanpa melepaskan pijakan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pendekatan Irfani: Pendekatan Spiritual dan Moral</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan <strong>Irfani</strong> menekankan dimensi spiritual dan moral dalam memahami ajaran Islam. Kejernihan hati, kepekaan nurani, dan kedalaman akhlak dipandang sebagai unsur penting agar pemahaman keagamaan tidak berhenti pada aspek tekstual dan rasional semata. Dalam pandangan Muhammadiyah, pendekatan ini berfungsi memperkuat nilai-nilai ihsan, kebijaksanaan, dan kemaslahatan, sehingga keputusan keagamaan tidak hanya benar secara dalil dan logika, tetapi juga menghadirkan manfaat serta rahmat bagi kehidupan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Muhammadiyah tidak memandang <strong>Bayani, Burhani, dan Irfani</strong> sebagai tiga pendekatan yang berdiri sendiri atau digunakan secara bergantian. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam proses memahami dan merumuskan pandangan keislaman. Melalui perpaduan ketiga pendekatan tersebut, Muhammadiyah berupaya menghadirkan pemahaman Islam yang tetap berpijak pada wahyu, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta memiliki kedalaman nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Integrasi inilah yang menjadikan Muhammadiyah mampu merespons berbagai persoalan kontemporer tanpa kehilangan pijakan pada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Dengan menjaga keseimbangan antara teks keagamaan, realitas kehidupan, dan dimensi spiritual, Muhammadiyah terus mengembangkan dakwah dan gerakan tajdid yang relevan, berkemajuan, serta memberikan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Afifi Fauzi Abbas. (2012). Integrasi Pendekatan Bayani, Burhani, dan irfani dalam Ijtihad Muhammadiyah. <em>AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah</em>, <em>12</em>(1), 51–68.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ilham, I. (2021). <em>Apa Arti Bayani, Burhani dan Irfani Menurut Manhaj Tarjih Muhammadiyah?</em> Muhammadiyah.or.id</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://muhammadiyahsragen.or.id/islam-tidak-berubah-cara-memahaminya-terus-berkembang-bayani-burhani-dan-irfani-dalam-manhaj-tarjih-muhammadiyah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
