MENELADANI RASULULLAH ﷺ: CINTA NABI BUKAN SEKADAR MEMPERINGATI KELAHIRANNYA

No Comments

Photo of author

By mpiadmin

Oleh : MPI PDM Sragen

KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullooha haqqo tuqootihii wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah-lah yang sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Hari ini kita berada di penghujung bulan Rabiul Awal, bulan yang oleh umat Islam dikenal sebagai bulan yang berkaitan erat dengan kelahiran manusia paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau adalah Rasul yang Allah utus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Wa maa arsalnaaka illaa rohmatan lil-‘aalamiin.
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”. (QS. Al-Anbiya: 107)

Maka ketika kita berbicara tentang kelahiran Rasulullah ﷺ, jangan berhenti pada kisah kelahirannya. Jangan berhenti pada kegembiraan memperingatinya. Tetapi marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita mengikuti ajarannya?
Sudahkah akhlak Rasulullah ﷺ hadir dalam keluarga kita?
Sudahkah sifat beliau terlihat dalam cara kita berbicara, bekerja, bermasyarakat, dan memperlakukan orang lain?
Sebab mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan ucapan:
أَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ
“Saya mencintai Nabi.”
Tetapi cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan ittiba’, mengikuti sunnah dan petunjuk beliau.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Qul in kuntum tuhibbuunallooha fattabi’uunii yuhbibkumulloohu wa yaghfir lakum dzunuubakum, walloohu ghofuurur rohiim.
“Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada empat bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ yang penting kita renungkan.

  1. Cinta Nabi berarti mencintai Allah dan mengikuti petunjuk beliau
    Rasulullah ﷺ tidak datang untuk sekadar dikenang. Beliau datang membawa petunjuk.
    Beliau mengajarkan bagaimana kita shalat, bagaimana kita berkeluarga, bagaimana berdagang, bagaimana bertetangga, bagaimana mendidik anak, bagaimana memperlakukan orang miskin, bahkan bagaimana memperlakukan orang yang berbeda dengan kita.
    Karena itu, semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin baik pula perilakunya.
  2. Cinta Nabi harus tampak dalam akhlak
    Rasulullah ﷺ adalah manusia yang sangat mulia akhlaknya.
    Allah berfirman:
    وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
    Wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim.
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Rasulullah ﷺ tidak membalas keburukan dengan keburukan. Beliau pemaaf, beliau penyayang, beliau rendah hati, beliau jujur, beliau menepati janji, beliau menghormati orang tua, beliau menyayangi anak-anak, beliau memperhatikan kaum lemah.
Maka pertanyaannya:
Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, apakah keluarga kita merasakan kasih sayang dari kita? Apakah tetangga kita merasa aman dengan kehadiran kita? Apakah teman-teman kita merasa nyaman berbicara dengan kita? Apakah bawahan kita merasa dihargai? Apakah anak-anak kita mengenal kita sebagai orang tua yang lembut?
Inilah ukuran cinta yang nyata.

  1. Cinta Nabi berarti memperbanyak shalawat
    Allah berfirman:
    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
    Innallooha wa malaa’ikatahu yusholluuna ‘alan-nabiyy. Yaa ayyuhalladziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.
    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
    Maka mari kita hidupkan shalawat.
    Ketika nama Rasulullah ﷺ disebut, jangan pelit mengucapkan:
    صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    Shollalloohu ‘alaihi wa sallam.
    Dan salah satu shalawat yang sangat utama adalah shalawat Ibrahimiyah yang kita baca dalam shalat.
  2. Cinta Nabi harus diwujudkan dengan menjaga persaudaraan
    Rasulullah ﷺ datang untuk mempersaudarakan manusia.
    Jangan karena perbedaan pilihan, organisasi, kelompok, atau kepentingan dunia kemudian kita saling mencela. Jangan karena persoalan kecil hubungan keluarga menjadi rusak. Jangan karena perbedaan pendapat kita kehilangan adab.
    Rasulullah ﷺ mengajarkan:
    لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
    Laa tabqaghodhuu, wa laa tahaasaduu, wa laa tadaabaruu, wa kuunuu ‘ibaadalloohi ikhwanaa.
    “Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, saling membelakangi; jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah Jumat rahimakumullah.
Di akhir Rabiul Awal ini, mari kita jadikan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar acara tahunan. Jangan sampai Rabiul Awal berlalu, tetapi akhlak kita tidak berubah. Jangan sampai kita banyak bershalawat, tetapi masih mudah menyakiti orang. Jangan sampai kita memuji Rasulullah ﷺ, tetapi meninggalkan sunnah dan ajaran beliau. Jangan sampai kita mengingat kelahiran Nabi, tetapi lupa meneruskan perjuangan Nabi.
Mari kita bawa Rasulullah ﷺ ke dalam kehidupan kita: ke rumah kita dengan kasih sayang, ke tempat kerja dengan kejujuran, ke masyarakat dengan kepedulian,bke media sosial dengan kesantunan, dan ke setiap langkah kehidupan dengan ketakwaan.

Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ benar-benar menjadi jalan untuk mendapatkan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Penghujung Rabiul Awal hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah:
Sudahkah kita mengenal Rasulullah ﷺ? Sudahkah kita membaca sirah beliau? Sudahkah kita mengajarkan kisah Nabi kepada anak-anak kita?
Sudahkah kita menanamkan kepada generasi muda bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam kehidupan?
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Laqod kaalna lakum fī rosuullillaahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullooha wal-yaumal-aakhiro wa dzakarallooha katsiiroo.
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Maka marilah kita meneladani Rasulullah ﷺ dalam segala aspek kehidupan.
Ya Allah, jadikanlah kami umat Nabi Muhammad ﷺ yang benar-benar mencintainya.
Ya Allah, hidupkan kami di atas sunnahnya dan wafatkan kami dalam keadaan beriman.
Ya Allah, muliakan akhlak kami sebagaimana Engkau telah memuliakan akhlak Nabi-Mu.
Ya Allah, jadikan keluarga kami keluarga yang sakinah, penuh kasih sayang dan keberkahan.
Ya Allah, jadikan anak-anak kami generasi yang mencintai Al-Qur’an, mencintai Rasulullah ﷺ, menghormati orang tua, mencintai ilmu dan bermanfaat bagi sesama.
Ya Allah, persatukan hati kaum Muslimin. Jauhkan kami dari permusuhan, fitnah, kebencian, kedengkian dan perpecahan.
Ya Allah, berikan keselamatan dan keberkahan bagi bangsa Indonesia. Jadikan negeri kami negeri yang aman, damai, adil dan diridhai-Mu.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Tinggalkan komentar