Pada 18 Agustus 1945, dalam sidang PPKI yang membahas pengesahan Undang-Undang Dasar, muncul persoalan mengenai rumusan Piagam Jakarta. Sebelumnya telah disepakati rumusan sila pertama: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Kemudian muncul usulan agar tujuh kata terakhir dihapus.
Tujuh kata itu adalah: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Bagi sebagian orang hari ini, persoalan tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi para tokoh yang terlibat langsung dalam proses perumusan dasar negara, persoalannya tentu tidak sesederhana itu. Rumusan tersebut merupakan hasil pembahasan dan kesepakatan yang telah melalui proses panjang.
Karena itu, sangat wajar apabila Ki Bagus Hadikusumo mempertanyakan mengapa perubahan tersebut baru muncul menjelang pengesahan. Bukankah persoalan itu seharusnya dibicarakan sejak sidang-sidang sebelumnya?
Sikap Ki Bagus tidak tepat jika hanya dipahami sebagai sikap keras atau kekolotan. Ia justru menunjukkan konsistensi seorang tokoh terhadap kesepakatan yang telah dibuat bersama. Beliau memiliki prinsip dan tidak ingin sebuah kesepakatan yang telah dicapai dengan susah payah berubah begitu saja.
Namun di situlah kualitas seorang negarawan diuji.
Mempertahankan prinsip adalah satu hal. Tetapi kemampuan untuk melihat kepentingan yang lebih besar adalah hal yang jauh lebih sulit.
Indonesia baru saja merdeka. Belanda masih menjadi ancaman. Negara belum memiliki fondasi pemerintahan yang kuat. Persatuan rakyat sangat dibutuhkan. Sedikit saja kesalahan dalam mengambil keputusan dapat menimbulkan persoalan yang jauh lebih besar bagi negara yang baru lahir.
Dalam suasana itulah peran Kasman Singodimedjo menjadi penting.
Kasman adalah salah satu tokoh Muhammadiyah yang berada dalam lingkaran perjuangan dan perumusan awal negara. Dalam kisah perjuangan Muhammadiyah di Menteng, Jakarta, ia bahkan dikenang dengan sebutan “sang penjaga warung”, sebuah gambaran sederhana tentang suasana perjuangan para tokoh yang tidak selalu berada di ruang-ruang resmi dan megah, tetapi hadir di tengah denyut kehidupan rakyat dan pergerakan.
Dalam memoir Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo menceritakan bagaimana ia berusaha meluluhkan Ki Bagus Hadikusumo, yang juga merupakan ketuanya dalam Persyarikatan Muhammadiyah.
Ada ungkapan Kasman yang kemudian sangat dikenal:
“Kiai, kito taksih kedah ngadepi Walandhi, menawi sampun merdhika mangke saget dipun kempalaken malih.”
Kurang lebih maknanya, kita masih harus menghadapi Belanda; setelah merdeka, persoalan itu masih dapat dibicarakan kembali.
Kalimat tersebut menggambarkan betapa rumit keadaan bangsa ketika itu. Para tokoh tidak sedang berdebat dalam kondisi negara yang aman dan mapan. Mereka sedang mengambil keputusan di tengah ancaman yang nyata. Indonesia baru saja menyatakan kemerdekaan dan membutuhkan persatuan agar kemerdekaan itu dapat dipertahankan.
Akhirnya, Ki Bagus Hadikusumo melunak.
Tetapi melunaknya Ki Bagus bukan karena beliau lemah. Bukan pula karena prinsipnya tidak penting. Justru sebaliknya, keputusan untuk mengutamakan persatuan menjadi semakin bernilai karena ia datang dari seseorang yang memiliki pendirian kuat.
Ki Bagus memilih melihat kepentingan yang lebih besar: Indonesia.
Di sinilah kita dapat melihat kualitas para negarawan pendiri bangsa. Mereka berbeda pendapat, tetapi tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling meniadakan. Mereka memiliki keyakinan, tetapi mampu menahan ego. Mereka mempertahankan prinsip, tetapi juga memahami kapan kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.
Tujuh kata itu akhirnya tidak masuk dalam rumusan final Pembukaan UUD 1945.
Namun apakah benar tujuh kata itu hilang?
Secara tekstual, iya. Tetapi secara sejarah, tidak pernah benar-benar hilang.
Tujuh kata itu justru meninggalkan pelajaran yang sangat panjang tentang Indonesia. Ia menjadi saksi bahwa negara ini dibangun melalui perdebatan, kompromi, pengorbanan, dan kebesaran jiwa.
Yang menarik, peristiwa tersebut juga memperlihatkan bahwa persatuan tidak berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Persatuan justru diuji ketika perbedaan itu muncul.
Para pendiri bangsa tidak hidup dalam dunia tanpa perbedaan. Mereka menghadapinya secara langsung. Mereka tahu bahwa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok dengan keyakinan dan latar belakang yang beragam. Karena itu, tugas mereka bukan menghilangkan perbedaan, melainkan menemukan titik temu agar perbedaan tersebut tidak menghancurkan cita-cita bersama.
Hari ini, pelajaran itu tetap relevan.
Kita hidup dalam Indonesia yang jauh lebih kompleks. Perbedaan politik, agama, budaya, dan kepentingan sering kali dengan mudah berubah menjadi pertentangan. Media sosial bahkan membuat perbedaan kecil dapat berkembang menjadi permusuhan besar.
Di tengah keadaan seperti itu, kisah tujuh kata yang hilang seharusnya kita baca bukan untuk membuka kembali perdebatan lama, apalagi mempertentangkan kelompok Islam dengan kelompok lainnya.
Kita membacanya untuk belajar tentang kebesaran jiwa.
Belajar dari Ki Bagus bahwa memiliki prinsip tidak berarti harus memenangkan semua perdebatan.
Belajar dari Kasman bahwa menjadi jembatan di tengah perbedaan adalah bentuk perjuangan.
Dan belajar dari para pendiri bangsa bahwa Indonesia harus selalu ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan pribadi dan golongan.
Sebab bangsa ini tidak lahir karena semua orang sepakat dalam segala hal.
Indonesia lahir karena para pendirinya mampu menemukan persamaan di tengah perbedaan.
Maka, mungkin inilah misteri sesungguhnya dari 7 kata yang hilang: yang hilang hanyalah kata-katanya dari rumusan final, tetapi jangan sampai semangat persatuan, pengorbanan, kompromi, dan kebesaran jiwa yang menyertainya ikut hilang dari ingatan kita.
Sebab kemerdekaan bukan hanya warisan yang harus dirayakan setiap tahun. Ia adalah amanah yang harus dijaga setiap hari.
Dan sebagaimana para pendiri bangsa telah menunjukkan kepada kita, menjaga Indonesia terkadang bukan dengan memenangkan apa yang kita inginkan, melainkan dengan kesediaan mengalah demi sesuatu yang jauh lebih besar.
Indonesia.
Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa.