Oleh: Muh. Nursalim
Sebut saja Sugito. Pengusaha sukses dengan menegemen langit. Tanpa perangkat computer canggih layaknya toko modern. Tanpa CCTV untuk memantau pergerakan pengunjung dan karyawan dan tanpa sistem adminstrasi njlimet layaknya bisnis di era digital. Ia kaya raya dengan berwirausaha. Membangun masjid senilai 8 M. Membangun pesantren dari kantongnya sendiri dan berwakaf tanah di sejumlah tempat.
Laki-laki itu yakin. Gusti Allah tidak mungkin salah memberi rejeki. Keyakinan yang menjadi penyemangat hidup untuk terus berkarya dan mendapatkan harta. Dalam falsafah jawa dikenal nrimo ing pandum. Kalimat ini ia yakini seratus persen. Tetapi bersama keyakinannya tersebut ada empat falsafah yang mengiringi.
Pertama, obah mamah (siapa bergerak akan makan). Tidak ada jatah makan yang keliru kirim. Setiap yang hidup pasti diberi makan oleh yang membuat hidup. Karena Allah itu tanggungjawab. Ia menciptakan makhluk dan memberi setiap ciptaannya rejeki. Maka di benak Sugito, tidak ada manusia yang tidak dapat jatah makan. keyakinan ini diperkuat dengan sebuah hadis nabi.
سنن ابن ماجه – (ج 6 / ص 452)
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal dunia hingga ia menerima rezekinya secara sempurna, sekalipun rezeki itu datang terlambat kepadanya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Ambillah apa yang halal dan tinggalkanlah apa yang haram (Hr. Ibnu Majah)
Kedua, Sapa nandur bakal ngundhuh (siapa menanam akan menuai). Ini falsafah jawa yang semua orang memahami. Tetapi tidak banyak yang meyakini dan menjalani prosesnya. Kebanyakan manusia cepat ingin menuai tanpa mau menanam. Atau menanam sekedarnya lalu menunai berlimpah.
Dunia tidak seperti itu. Proses mesti dijalani dengan baik dan maksimal. Ketika yang ditanam adalah kejahatan maka ia akan panen masalah. Di dunia maupun dia akherat. Siapa menebar angin akan menuai badai. Dalam falsafah yang mirip ada kalimat, manungso kui ngunduh wohe pakerti (manusia itu akan panen apa yang ia lakukan).
Ketiga, jer basuki mawa bea (keberhasilan memerlukan pengorbanan). Sugito membangun masjid senilai 8 M tidak gampang. Awalnya dirinya hanya ingin menyediakan lahan untuk dibangun tempat ibadah. Ia cari dana dari timur tengah untuk membangun. Setelah proses berliku dan hampir cair. Ia tersentak, “mengapa saya menjadi peminta-minta. Apa Allah hanya Tuhannya orang arab, sehingga duit diberikan kepada mereka ?”
Kesadaran itu akhirnya membawanya untuk membatalkan donatur timur tangah. Ia yakin bahwa Allah juga Tuhananya, akan memberi rejeki untuk membangun rumah Nya. Maka dengan modal 500 juta ia bangun masjid tersebut. 300 juta dititipkan ke toko matreal sisanya buat persediaan bayar tukang.
Tanpa proposal tanpa minta sumbangan. Walaupun demikian dirinya tidak menolak jika ada orang yang ikut berdonasi membangun rumah suci itu. Dengan ijin Allah, bisnisnya luar biasa berkembang. Ia seperti banjir duit dari macam-macam toko yang dimiliki. Dan lewat usaha itulah sebagian besar masjid megah itu ia selesaikan pembangunannya. Pengorbanannya membuahkan hasil.
Keempat, ana dina ana upa (setiap hari Allah menyediakan rezeki bagi yang berusaha). Ini falsafah yang juga luar biasa. Tidak ada hari tanpa rejeki. Artinya jika manusia berusaha rejeki itu pasti datang. Tidak mungkin tidak. Itulah sebabnya Sugito terus bekerja walaupun kekayaannya sudah luar biasa banyak. Untuk ukuran penduduk utara bengawan Solo.
Maka nrimo ing pandum tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bamper dari ke empat falsafah yang lain. Ketika ke empatnya sudah dijalani maka yang ke lima ini wujud ketakwaanya kepada Allah. Saking yakinnya akan rejeki dari Allah tersebut. Sugito tidak peduli dengan ketidakjujuran karyawan yang jumlah ratusan. Ia berpikir, “kalau ada orang yang mencuri hartaku berarti itu bukan milikku”.
Alkisah. Ada karyawan toko yang sudah berkali-kali mencuri. Sugito tidak tahu. Dan juga tidak ingin tahu. Ia percaya sepenuhnya kepada mereka. Ia hanya memberi SOP bahwa setiap mengawali kerja agar pimpinan mengajak membaca alqur’an dan berdo’a. Lalu setiap jam shalat agar segera menjalankan perintah Allah. Itu saja. Tanpa diinvestigasi tanpa ditelisik, karyawan tersebut menghadap dirinya. Cerita apa adanya, bahwa ia telah mencuri puluhan juta. Lalu berjanji akan segera mengambalikannya. Meskipun tidak langsung.
Begitulah makna nrimo ing pandum di benak Sugito. Ia bukan pasrah tanpa usaha, bukan pula alasan untuk berhenti bekerja. Nrimo adalah keyakinan bahwa setelah ikhtiar maksimal, hasil akhirnya milik Allah. Manusia menanam, bergerak, berkorban dan berdoa. Selebihnya ia menerima dengan lapang dada. Hati menjadi tenang, tangan tetap bekerja, dan harta tidak pernah menjadi tuhan. Itulah falsafah Jawa yang luar biasa bagi kehidupan manusia beriman.