Oleh : Dr. Muh. Nursalim
Manusia adalah makhluk sosial. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendirian. Ketika masih bayi, kita membutuhkan ibu. Ketika tumbuh besar, kita membutuhkan orang tua. Ketika dewasa, kita membutuhkan saudara, tetangga, sahabat dan masyarakat.
Namun ada satu fenomena yang kadang terjadi dalam kehidupan kita. Ada orang yang sangat ramah kepada orang lain, tetapi keras kepada keluarganya. Ada orang yang ringan memberikan bantuan kepada masyarakat, tetapi berat membantu saudaranya sendiri. Ada orang yang rajin menjalin hubungan dengan banyak orang, tetapi hubungan dengan kakak, adik, paman, bibi, bahkan orang tuanya justru renggang.
Padahal, dalam urutan perintah Allah, setelah berbuat baik kepada kedua orang tua, Allah secara khusus mengingatkan kita tentang hak keluarga dan kerabat.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ
“Dan berikanlah kepada kerabat haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.”
Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam. Allah tidak hanya mengatakan: berbuat baiklah kepada kerabatmu. Tetapi Allah berfirman:
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ
“Berikanlah kepada kerabat haknya.”
Artinya, hubungan dengan keluarga bukan sekadar hubungan pilihan. Bukan sekadar, “Kalau saya mau, saya akan berbuat baik. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa.” Tidak demikian. Kerabat mempunyai hak.
Dalam Tafsir al-Khāzin dijelaskan bahwa setelah Allah memerintahkan manusia berbakti kepada kedua orang tua, Allah memberikan perhatian kepada hubungan kekerabatan. Hak kerabat itu mencakup:
صِلَةَ الرَّحِمِ، وَالْمَوَدَّةَ، وَالزِّيَارَةَ، وَحُسْنَ الْمُعَاشَرَةِ، وَالْمُؤَالَفَةَ عَلَى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، وَالْمُعَاضَدَةَ
Yaitu menyambung silaturahmi, saling mencintai, saling mengunjungi, bergaul dengan baik, bersatu dalam keadaan senang maupun susah, serta saling membantu dan menguatkan.
Inilah ajaran Islam. Islam tidak hanya mengajarkan kita bagaimana menjadi orang saleh di masjid. Islam juga mengajarkan bagaimana menjadi orang yang baik di rumah. Jangan sampai seseorang dikenal sebagai orang yang santun ketika berbicara di depan masyarakat, tetapi ketika pulang ke rumah justru kasar kepada keluarganya.
Jangan sampai seseorang dikenal sebagai dermawan kepada banyak orang, tetapi ketika saudaranya membutuhkan pertolongan, ia pura-pura tidak tahu. Jangan sampai seseorang memiliki ribuan teman, tetapi tidak berbicara dengan kakak atau adiknya selama bertahun-tahun hanya karena persoalan warisan, tanah atau masalah dunia yang sesungguhnya tidak seberapa.
Kerabat adalah orang yang paling dekat dengan kita. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Karena itulah, ketika kita memiliki kelapangan, kita perlu melihat:
Apakah ada saudara kita yang sedang kesulitan?
Apakah ada keluarga kita yang membutuhkan bantuan?
Apakah ada keponakan kita yang kesulitan sekolah?
Apakah ada kerabat kita yang sedang sakit?
Apakah ada saudara kita yang sebenarnya membutuhkan pertolongan, tetapi tidak berani meminta?
Kadang-kadang kita terlalu sibuk membantu orang jauh, tetapi lupa kepada orang yang dekat. Kita sibuk memperhatikan keadaan orang lain, tetapi tidak tahu bahwa saudara kita sendiri sedang berada dalam kesulitan. Padahal Allah berfirman:
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ
Berikanlah hak kerabatmu.
Dalam kehidupan keluarga, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan uang. Kadang seseorang tidak membutuhkan harta kita. Ia hanya membutuhkan perhatian. Ia membutuhkan telepon dari kita. Ia membutuhkan kunjungan kita. Ia membutuhkan kata-kata yang menenangkan. Ia membutuhkan kita hadir ketika ia sedang tertimpa musibah.
Karena itu, silaturahmi tidak boleh dipahami hanya sebagai tradisi ketika Hari Raya. Silaturahmi adalah menjaga hubungan. Silaturahmi adalah hadir ketika diperlukan. Silaturahmi adalah mendekat ketika hubungan mulai renggang. Silaturahmi adalah menahan diri ketika terjadi kesalahpahaman. Silaturahmi adalah berusaha memaafkan ketika kita disakiti.
Memang tidak semua keluarga selalu baik kepada kita. Kadang justru keluarga yang paling dekat adalah orang yang paling mudah melukai hati. Atau persoalan kecil berubah menjadi pertengkaran panjang. Ada juga masalah warisan memutuskan hubungan puluhan tahun. Atau karena persoalan tanah, seorang kakak tidak berbicara dengan adiknya.
Padahal harta itu tidak dibawa mati. Tanah itu tidak dibawa ke kuburan. Rumah itu tidak ikut masuk liang lahat. Yang akan kita bawa adalah amal kita. Maka, betapa rugi seseorang yang mendapatkan tambahan harta, tetapi kehilangan saudara. Betapa rugi seseorang yang memenangkan perkara dunia, tetapi kalah dalam menjaga hubungan kekeluargaan.
Tafsir al-Khāzin juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk hak kerabat adalah membantu mereka apabila mereka membutuhkan. Karena itu, apabila Allah memberikan kelapangan kepada kita, jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa kepada keluarga. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab sosialnya. Semakin luas rezeki seseorang, semakin luas pula kesempatan untuk berbuat baik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan kekeluargaan.”
Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah hubungan kita dengan saudara-saudara kita sudah baik. Apakah ada keluarga yang sudah lama tidak kita hubungi. Apakah ada kesalahan yang sebenarnya bisa kita maafkan. Apakah ada saudara yang membutuhkan pertolongan kita?
Jangan menunggu lebaran untuk bersilaturahmi. Jangan menunggu ada kematian baru kita berkumpul. Jangan menunggu saudara kita sakit baru kita datang. Jangan sampai nanti kita berdiri di samping jenazah saudara kita sambil menangis dan berkata:
Seandainya kemarin aku datang. Seandainya kemarin aku memaafkannya. Seandainya kemarin aku menghubunginya. Padahal semuanya sudah terlambat. Maka selama Allah masih memberikan kesempatan, sambunglah silaturahmi. Selama masih ada waktu, maafkanlah. Selama masih mampu, bantulah. Karena itulah hak kerabat yang diperintahkan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
